Entri Populer

Jumat, 29 Juli 2011

Padang Bulan

Sekilas dari novel Padang Bulan karya Andrea Hirata:
"Syalimah gembira.

Karena suaminya mengatakan akan memberinya hadiah kejutan. Syalimah tak tahan
”Aih, janganlah bersenda, Pak Cik. Kita ini orang miskin. Orang miskin tak kenal kejutan”
Mereka tersenyum
”Kejutan-kejutan begitu, kebiasaan orang kaya. Orang macam kita ni? Saban hari terkejut. Datanglah ke pasar kalau Pak Cik tak percaya”
Suaminya-Zamzami-tahu benar maksud istrinya. Harga-harga selalu membuat mereka terperanjat.
”Telah lama kauminta” kata suaminya dengan lembut
Syalimah kian ingin tahu. Waktu mengantar suaminya ke pekarangan dan menyampirkan bungkus rantang bekal makanan di stang sepeda, ia bertanya lagi, Zamzami tetap tak menjawab.
”Sudah bertahun-tahun kauinginkan, baru bisa kubelikan sekarang, maaf”
Zamzami meninggalkan pekarangan, namun kembali. Ia mengatakan ingin mengajak Syalimah melihat-lihat bendungan.
”Apa Yahnong tak kan bekerja?”
Yahnong, singkatan untuk ayah bagi anak tertua mereka Enong. Kebiasaan orang Melayu menyatakan sayang pada anak tertua dengan menggabungkan nama ayah dan nama anak tertua itu.
”Sudah lama aku tak memboncengmu naik sepeda”
Bendungan itu tak jauh dari rumah mereka. Dulu dipakai Belanda untuk untuk membendung aliran anak-anak Sungai Linggang agar kapal keruk dapat beroperasi. Sampai di sana, mereka hanya diam memandangi permukaan danau yang tenang. Tak bicara, seperti mereka dulu sering bertemu di situ.
Mereka pulang. Zamzami berangkat kerja. Syalimah tak memikirkan soal kejutan itu. Karena ia bahkan lupa pernah meminta apa dari suaminya. Delapan belas tahun mereka telah berumah tangga, baru kali ini suaminya akan memberi kejutan. Semua hal, dalam keluarga mereka yang sederhana, amat gampang diduga. Penghasilan beberapa ribu rupiah mendulang timah,cukup untuk membeli beras berapa kilogram, untuk menyambung hidup beberapa hari. Semuanya dipahami Syalimah di luar kepala. Tak ada rahasia, tak ada yang tak biasa, dan tak ada harapan yang muluk-muluk. Tahu-tahu, macam bakung berbunga musim kemarau, suaminya ingin memberinya kejutan.
Syalimah dan Zamzami berjumpa waktu pengajian ketika mereka masih remaja. Zamzami yang pemalu, begitu pula Syalimah, menyimpan rasa suka diam-diam. Zamzami tak pernah berani mengatakan maksud hatinya, dan Syalimah takut menempatkan diri pada satu keadaan sehingga lelaki lugu itu dapat mendekatinya.
Namun, lirikan curi-curi di tengah keramain itu kian hari kian tak tertahankan. Zamzami mengurangi kecepatannya menambah juz mengaji, padahal ia membaca Al-quran lebih baik dari ia membaca huruf latin. Tujuannya agar makin lama dapat berada di dalam kelas yang sama dengan Syalimah. Berulang kali ditanyakannya pada ustad hal-hal yang dia sudah tahu. Dibentak bebal, dia tersenyum sambil menunduk. Sedangkan Syalimah, berpura-pura bodoh membaca tajwid, dimarahi ustad, biarlah. Maksudnya serupa dengan maksud Zamzami. Semua taktik yang merugikan diri sendiri itu, jika boleh disebut cinta, itulah cinta.
Sungguh indah, atas saran ustad-lantaran mencium gelagat yang tak beres antara dua murid mengaji yang tak tahu cara mengungkap cinta itu-mereka malah dijodohkan orang tua masing-masing.
Sejak mengenal Zamzami, Syalimah tahu ia akan bahagia hidup bersama lelaki itu, meski, ia juga mahfum, ada satu hal yang harus selalu ia hindari: minta dibelikan apapun. Sebab lelaki baik hati yang dicintainya itu hanyalah lelaki miskin yang berasal dari keluarga pendulang timah. Namun Syalimah tak perlu dibelikan harta benda sebab Zamzami adalah harta yang paling berharga, melebihi segalanya. Lelaki itu amat penyanyang pada keluarga, sehingga Syalimah tak memerlukan harta apapun lagi di dunia ini.
Menjelang tengah hari, sebuah mobil pikup berhenti di depan rumah. Dua lelaki mengangkat benda yang dibungkus dengan terpal dari bak mobil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Syalimah bertanya-tanya. Mereka tak mau menjawab.
”Malam ini ada pasar malam di Manggar, Mak Cik” kata salah satu lelaki itu sambil tersenyum.
Syalimah memandangi benda itu dengan gugup tapi gembira. Pasti benda itu yang dimaksud suaminya dengan kejutan. Rupanya sungguh luar biasa pengaruh sebuah kejutan. Sekarang ia paham mengapa orang-orang kaya menyukai kejutan. Kucing-kucingnya yang lucu melingkari benda itu, menggodanya untuk mendekat. Syalimah melangkah maju, namun di tengah jalan, ia ragu. Ia kembali ke ambang pintu.
Syalimah menertawakan kelakuannya sendiri karena keranjingan menikmati sensasi sebuah kejutan. Lalu ia berpikir, kejutan itu tak sanggup ia atasi dan terlalu indah untuk ia nikmati sendiri. Ia akan menunggu Enong, putri tertuanya itu, pulang dari ekolah. Mereka akan menikmati kejutan itu berdua. Tentu akan sangat menyenangkan.
Namun Syalimah tak tahan untuk segera tahu apa yang dibelikan suaminya untuknya, sedangkan Enong baru akan pulang sore nanti. Sesekali ia melongok ke arah benda yang misterius itu. Ia memberanikan diri dan melangkah pelan mendekatinya. Di depan benda itu jantungnya berdebar-debar. Ia memejamkan mata dan menarik terpal. Ia membuka matanya dan terkejut tak kepalang melihat sesuatu berkilauan: sepeda Sim King made in RRC!
Syalimah terhenyak. Ia tak menyangka sepeda itu dihadiahkan Zamzami untuknya sebagai kejutan. Bukan hanya karena sepeda itu akan menjadi benda paling mahal di rumah mereka, namun karena ia memintanya hampir empat tahun silam. Itupun sesungguhnya bukan meminta. Waktu mengandung anak bungsunya, ia berkisah pada Zamzami, betapa dulu ia bahagia sering dibonceng almarhum ayahnya naik sepeda ke pasar malam, dan di sana dibelikan balon gas.
”Kalau anak ini lahir” kata Syalimah sambil bercanda
”Sepeda kita tak cukup lagi untuk membonceng anak-anak ke pasar malam” karena
anak mereka akan menjadi empat sedangkan mereka hanya punya dua sepeda reot.
Syalimah tak dapat menahan air matanya. Ia terharu mengenang suaminya telah menyimpan percakapan itu selama bertahun-tahun dan memegangnya sebagai sebuah permintaan. Betapa baik hati lelaki itu. Lalu Syalimah terisak begitu ingat bahwa hari itu hari Sabtu dan malam nanti ada pasar malam di Manggar. Kini ia paham maksud lelaki yang mengantarkan sepeda itu. Suaminya pasti merencanakan berangkat sekeluarga naik sepeda ke pasar malam. Seperti dulu ayah Syalimah selalu memboncengnya naik sepeda ke pasar malam.
Selanjutnya Syalimah hilir mudik di dapur menghitung bagaimana membagi anak-anaknya pada tiga sepeda. Sang ayah, satu-satunya lelaki di dalam keluarga, berarti yang paling kuat, akan membonceng keranjang pempang dan di dalamnya akan dimasukkan si nomor dua, gadis kecil yang bongsor itu.
Si nomor tiga, yang cerewet, akan dibonceng oleh kakanya Enong, dan si bungsu akan dibonceng ibu, naik sepeda baru Sim King made in RRC, hadiah kejutan itu. Tak terperikan bahagianya perjalanan ke pasar malam itu nanti. Meski telah menetapkan pengaturan pembagian sepeda, Syalimah berulang kali menghitungnya di dalam hati. Karena perhitungan itu menimbulkan perasaan indah dalam hatinya.
Kemudian Syalimah tak sabar menunggu suaminya pulang. Ia berdiri di ambang jendela, tak lepas memandangi langit yang mendung dan ujung jalan yang kosong. Ia ingin segera melihat suaminya berbelok di pertigaan di ujung jalan sana, pulang menuju rumah. Ia akan menyongsongnya di pekarangan dan mengatakan betapa indahnya sebuah kejutan. Ia mau mengatakan pula bahwa mulai saat itu mereka harus lebih sering memberi kejutan. Karena kejutan ternyata indah.
Syalimah gembira melihat seseorang bersepeda dengan cepat. Jika orang itu-Sirun-telah pulang, pasti suaminya segera pula pulang. Namun Sirun berbelok menuju rumah Syalimah dengan tergesa-gesa. Buruh kasar itu langsung masuk dan dengan gemetar mengatakan telah terjadi kecelakaan. Zamzami tertimbun tanah. Syalimah terpaku di tempatnya berdiri. Nafasnya tercekat. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Sirun memintanya menitipkan anak-anaknya kepada tetangga dan mengajaknya ikut ke tambang.
Sampai di sana, Syalimah mendengar orang berteriak-teriak panik dan menggunakan alat apa saja untuk menggali tanah yang menimbun Zamzami. Para penambang yang tak punya cangkul menggali dengan tangannya, secepat-cepatnya. Syalimah berlari dan bergabung dengan mereka. Ia menggali tanah dengan tangannya sambil tersedak-sedak memanggil-manggil suaminya. Keadaan menjadi semakin sulit karena hujan turun. Tanah yang menimbun Zamzami berubah menjadi lumpur. Para penambang berebut dengan waktu. Jika terlambat, Zamzami pasti tak tertolong dan Zamzami mulai memasuki saat-saat tak tertolong itu. Syalimah menggali seperti orang lupa diri sambil menangis, sampai berdarah ujung-ujung jarinya. Ia berdoa agar Zamzami tertimbun dalam keadaan tertelungkup. Penambang yang tertimbun dalam keadaan terlentang tak pernah dapat diselamatkan. Galian semakin dalam, Zamzami belum tampak juga. Tiba-tiba Syalimah melihat sesuatu. Ia menjerit
”Ini tangannya! Ini tangannya!”
Orang-orang menghambur ke arah tangan itu. Syalimah gemetar karena tangan yang menjulur itu terbuka. Suaminya telah tertimbun dalam keadaan terlentang. Para penambang cepat-cepat menarik Zamzami. Ketika berhasil ditarik, lelaki kurus itu tampak seperti tak bertulang. Tubuhnya telah patah. Pakaiannya compang-camping menyedihkan. Zamzami diam tak bergerak. Semuanya telah terlambat.
Syalimah tersedu-sedan. Ia bersimpuh di samping Zamzami yang telah mati. Ia mengangkat kepala suaminya ke atas pangkuannya. Kepala itu terkulai seperti ingin bersandar. Syalimah membasuh wajah Zamzami dengan air hujan, lalu tampak seraut wajah yang pias dan sepasang mata yang lugu. Syalimah mendekap lelaki penyayang itu kuat-kuat. Ia meratap-ratap memanggil-manggil suaminya."


Novel ini mengajarkan bagaimana perjuangan hidup seseorang, semangat untuk hidup yang lebih baik.
Cobalah teman-teman semua membaca & temukan inspirasi dalam mencari semangat hidup :)

LA TAHZAN

Jangan bersedih. Sebab rasa sedih akan selalu mengganggumu dengan kenangan masa lalu. Kesedihan akan membuatmu khawatir dengan segala kemungkinan di masa mendatang. Serta akan menyia-nyiakan kesempatanmu pada hari ini.
Jangan bersedih. Karena rasa sedih hanya akan membuat hati menjadi kecut, wajah muram, semangat makin padam, dan harapan kian hilang.
Jangan bersedih. Sebab kesedihan hanya akan membuat musuh gembira, kawan bersedih, dan menyenangkan para pendengki. Kerap pula membuat hakikat-hakikat yang ada berubah.
Begitulah kata-kata mutiara di kumandangkan oleh penulis buku ini Dr. 'Aidh al-Qarni.




Bagi teman-teman yang merasa bersedih, hidup terhimpit & merasa harapan itu tidak ada, alangkah baiknya membaca buku ini sebagai penyejuk jiwa sebab setelah itu kita dapat mengetahui alangkah tidak perlunya kita untuk bersedih atau meratapi sesuatu yang tak akan dapat kembali...




Bagi yang ingin membaca, bisa di donlot di link ini:

Kamis, 28 Juli 2011

Hanya Aku :)




Aku & Duniaku :)

Cerita Malam

Lorong-lorong di antara lembah-lembah terasing,.,
Curam dan terjal,.,
Gelap dan sepi,.,
Pohon-pohon yang tumbuh menua, mati, mengering.,.
Semak berduri diantara bebatuan yang dihidupi lumut, lama kelamaan rapuh,.,
Rapuh lalu hancur menjadi serbuk,.,
Serbuk itu terbang ditiup angin, entah akan kemana ia berhenti,.,
Yang dahulu batu keras dan kokoh, sekarang menjadi serbuk entah akan kemana ia tinggal,.,
Tidak ada merah, pink, ungu, kuning disekeliling sini,.,
lembah terasing, lorong hitam, pohon menua,.,
Meringkuk diantara dinginnya hembusan angin,.,
Hendak berbagi? Dengan siapa?
Siapa yang peduli dalam lembah terasing dengan lorong hitamnya?
Siapa yang akan peduli dengan tidak adanya merah, pink, ungu, kuning disini?
Hanya kesepian dan kesunyian yang akan peduli,.,
Kau bertanya apa itu kesepian dan kesunyian?
Kesepian dan kesunyian itu adalah ketika kau berbicara, kau hanya akan mendengar kembali suaramu sendiri.....

Aku dan kunang- kunang

Malam sudah kembali menampakkan wujudnya,.,
Tampak jelas sang bulan purnama, bulat utuh menampakkan keindahan jubah cahayanya.
Kunang-kunang kecil yang baru saja keluar dari peraduannya seakan ingin kembali sekilas setelah melihat megahnya cahaya rembulan malam.

"Hei, aku ingin kembali saja ke rumah" kata kunang-kunang kecil itu,.,
"Kenapa wahai kunang-kunang?" jawabku.,.
"Kau lihat saja, bulan itu jauh lebih terang, ia lebih besar, kita tidak ada apa-apanya. Cahaya kita tak akan mampu menyaingi cahaya bulan itu" Kunang- kunang berkata kembali.
Aku mendongak ke atas, kulihat bulan purnama itu. Bulat penuh, tersenyum penuh kemenangan seakan berkata "Hai kalian makhluk kecil yang tak akan bisa menentang indahnya cahayaku. Kembali saja lah ke peraduan kalian".
Tapi aku teringat dan menarik kunang-kunang untuk duduk bersama & ku katakan:
"Kenapa kau bersedih wahai sahabatku? Cahaya kita memang tak cukup menyaingi cahaya bulan itu. Tapi tahukah kau sahabatku, biarpun cahaya kita kecil dan tak dapat seterang sang bulan, setidaknya ini cahaya kita sendiri, kita yang memilikinya. Hidup kita yang membuat cahaya ini ada. Cahaya ini karna kerja keras kita.
Kau lihat bulan itu? cahayanya memang terang sekali, tapi tahukah kau, cahaya itu ia pinjam dari sang mentari yang sudah lelah untuk siang. Jadi untuk apa kita bersedih? karena kurangnya cahaya ini? Ini cahaya kita yang punya, bukan kita pinjam dari yang lain bukan?" Kataku pada sahabatku, sang kunang-kunang kecil.
"Kau benar sahabatku, ini cahayaku sendiri yang tak aku pinjam dari orang lain, semestinya aku tak sedih saat menatap bulan itu." Jawab kunang-kunang sambil kembali tersenyum dan mendongak seakan puas mendapat jawaban atas kegalauannya...


"Jadi, intinya kita tidak boleh rendah diri terhadap kekuasaan orang lain yang sebenarnya bukan usahanya sendiri. Banggalah terhadap diri sendiri yang walaupun kecil, tapi mampu berusaha sendiri tanpa mengharapkan bantuan orang lain.....":))