Entri Populer

Jumat, 03 Juni 2011

Laporan Kimia Analisis Asidimetri dan Alkalimetri

ABSTRAK

Asidimetri dan alkalimetri merupakan proses titrasi yang menggunakan larutan  asam dan basa.Tujuan dari percobaan ini adalah menetapkan konsentrasi HCl dengan standarisasi larutan Borax (Na2B4O7.10H2O) dan Na2CO3, membuat larutan standar NaOH serta standarisasinya dengan menggunakan asam oksalat, serta untuk menetukan kadar NH3 dalam NH4Cl dan kadar asam asetat dalam asam cuka yang diperdagangkan.
Untuk menetukan konsentrasi baik dengan standarisasi menggunakan Borax, Na2CO3 anhidrous atau asam oksalat prinsip kerjanya sama, yaitu dengan proses titrasi. Begitu pula dengan menetukan kadar NH3 dan kadar asam asetat yang masing-masing sample dijadikan titrat yang dititrasi dengan larutan standar. Kemudian dari data yang diperoleh, maka dilakukan perhitungan untuk mengetahui nilai konsentrasi maupun kadarnya.
 Dari perhitungan yang dilakukan didapatkan hasil bahwa nilai konsentrasi HCl dengan standarisasi menggunakan Borax sebesar 0, 0669N, dengan menggunakan Na2CO3 sebesar 0, 0858N. Saat pembuatan NaOH standar konsentrasinya 0, 1N, standarisasi dengan asam oksalat didapatkan konsentrasi NaOH sebesar 0, 1347N. untuk kadar NH3 didapat sebesar 70, 125% dan kadar asam asetat sebesar 4, 598%.

PERCOBAAN 1
ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI
1.1                   Pendahuluan
1.1.1             Tujuan percobaan
  Percobaan ini bertujuan untuk:
1.    Menetapkan konsentrasi larutan standar HCl dengan cara standarisasi dengan larutan borax (Na2B4O7. 10H2O) dan Na2CO3 anhidrous.
2.    Membuat larutan standar NaOH dan standarisasi dengan asam oksalat.
3.    Menentukan kadar asam dalam asam cuka yang diperdagangkan serta menentukan kadar NH3 dalam garam ammonium NH4Cl.

1.1.2        Latar Belakang
Banyak cara untuk menentukan kadar senyawa yang terkandung dalam suatu bahan. Salah satu cara adalah dengan proses titrasi. Dalam titrasi itu sendiri ada bermacam-macam, salah satunya adalah asidimetri dan alkalimetri.
              Titrasi asam basa ini sangatlah berguna dalam bidang industri. Contoh penggunaannya adalah dalam bidang pertanian, untuk pembuatan pupuk kalium klorida yang dalam pembentukkannya diperlukan MgO yang dihitung kadarnya sebagai penguji dengan proses titrasi. Dalam industri makanan digunakan untuk penentuan kadar iodium, sakarin, kadar Zn dan Fe dalam tahu yang dibungkus dengan plastik dan dalam industri kosmetika yaitu dalam penentuan kadar zat warna AZO yang berbahaya.
              Mengingat banyaknya fungsi aplikasi dari percobaan ini, sudah seharusnya percobaan ini dilakukan. Percobaan ini dapat meningkatkan keahlian praktikan sebagai mahasiswa Teknik Kimia yang akan berhubungan langsung dengan bahan industri. Jadi, keahlian dalam penentuan kadar suatu bahan dengan titrasi harus dikuasai praktikan.
1.2 Dasar Teori
            Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. Asidimetri dan alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah dengan suatu asam standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas atau asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah dengan suatu basa standar (alkalimetri). Reaksi-reaksi ini melibatkan bersenyawanya ion hydrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air
(Basset, 1994).
            Suatu larutan standar adalah larutan yang mengandung eagensia dengan bobot yang diketahui dalam suatu volume tertentu suatu larutan. Larutan standar primer adalah suatu larutan yang konsentrasinya dapat langsung ditentukan dari berat bahan sangat murni yang dilarutkan dan volume yang terjadi, suatu zat standar primer harus memenuhi persyaratan, yaitu sebagai berikut:
1.    Zat harus mudah diperoleh, mudah dimurnikan dan juga mudah dikeringkan (sebaiknya pada suhu 1100+- 1200C).
2.    Zat harus tidak berubah dalam udara selama penimbangan. Kondisi-kondisi ini mengisyaratkan bahwa zat tidak boleh higroskopis, tidak pula dioksidasi udara atau dipengaruhi karbon dioksida. Standar ini juga harus dijaga agar komposisinya tidak berubah saat penyimpanan.
3.    Zat harus dapat diuji terhadap zat pengotor dengan uji-uji kualitatif atau uji-uji lain yang kepekaannya diketahui (jumlah total zat-zat pengotor, umumnya tidak boleh melebihi 0, 01-0, 02 ).
4.    Zat harus mempunyai ekivalen yang tinggi, sehingga sesatan penimbangan dapat diabaikan.
5.    Zat harus mudah larutpada kondisi-kondisi dalam mana ia digunakan.
6.    Reaksi dengan larutan standar itu harus soikiometri dan praktis sekejap. Sesatan titrasi harus dapat diabaikan atau mudah ditetapkan dengan cermat dengan
eksperimen.
Zat-zat yang biasa digunakan sebagai standar primer adalah reaksi asam basa natrium karbonat (Na2CO3), natrium tetrabonat (Na2B4O7), kalium hydrogen iodat KH(IO3)2, asam klorida bertitik didih konstan. Sedangkan standar sekunder adalah zat yang dapat digunakan untuk standarisasi dan yang kandungan zat aktifnya telah ditemukan dengan pembandingan dengan suatu standar primer (Basset, 1994).
            Dalam suatu titrasi larutan yang harus dinetralkan misalnya, asam yang dimasukkan kedalam wadah atau tabung. Larutan lain, yaitu basa, dimasukkan kedalam buret kemudian kedalam asam mula-mula cepat kemudian tetes demi tetes sampai titik setara dari titrasi tersebut dicapai. Salah satu usaha untuk mencapai titik setara adalah dengan melalui perubahan warna dari indicator asam basa. Titik pada titrasi dimana indicator berubah warna dinamakan dengan titik akhir indicator. Yang diperlukan adalah memadankan titik akhir indicator dengan titik akhir penetralan. Ini dapat dicapai apabila kita dapat menemukan indicator yang sesuai dengan perubahan warnanya terjadi dalam selang pH yang sesuai dengan titik setara (Petrucci, 1987).
            Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk flouresen atau kekeruhan pada suatu range atau trayek pH tertentu. Indikator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. Zat-zat indicator dapat berupa asam ataupun basa-larut, stabil dan menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya juga adalah zat-zat organic. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer electron. Berbagai indicator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range atau trayek pH yang berbeda (Khopkar, 1990).
            Metil jingga adalah garam Na dari suatu asam sulponic dimana didalam suatu larutan banyak terionisasi dan dalam lingkungan alkali anionnya memberikan warna kuning sedangkan suasana asam metal jingga bersifat sebagai basa lemah dan mengambil ion H+, terjadi suatu perubahan struktur dam memberikan warna merah dari ion-ionnya.
            Indikator adalah suatu zat yang warnanya berbeda-beda sesuai dengan konsentrasi ion hydrogen. Asam atau basa indicator yang tidak terdisosiasi mempunyai warna yang berbeda dengan hasil disosiasinya. Contohnya fenolftalein yang tergolong asam yang sangat lemah, dalam keadaan yang tidak terionisasi tersebut tidak berwarna. Jika dalam lingkungan basa, fenolftalein akan terionisasi lebih banyak dan memberikan warna yang terang karena adanya anionnya
(Keenan, 1994).
            Indikator fenolftalein yang sudah dikenal merupakan asam diprotik dan tidak berwarna. Indicator ini terurai dahulu menjadi bentuk tidak berwarnanya dan kemudian, dengan hilangnya proton kedua, menjadi ion dengan system terkonjugat, menghasilkan warna merah. Metal oranye, indicator lainnya yang banyak digunakan, merupakan basa dan berwarna kuning dalam molekulnya. Penambahan proton menghasilkan kation yang berwarna merah muda (Underwood, 1998).
            Pemilihan indicator untuk titrasi, harus diingat bahwa titik ekivalen titrasi yang mana anda memiliki campuran dua zat yang perbandingannya tepat sama, anda tidak pelak lagi membutuhkan pemilihan indicator yang perubahan warnanya mendekati titik ekivalen. Indicator yang dipilih bervariasi dari satu titrasi ke titrasi yang lainnya.
Asam kuat vs Basa kuat
            Jika anda menggunakan  fenolftalein, anda akan menitrasi sampai fenolftalein tak berwarna (pada pH 8, 8) karena itu adalah titik terdekat untuk mendapatkan titik ekivalen (Anonim, 2008).
1.3         Metodologi Percobaan
1.3.1      Alat dan Deskripsi Alat
              Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adala:
-          Erlemeyer 250mL dan 100mL      - Sudip
-          Neraca Analitik                             - Gelas Ukur 50mL
-          Buret asam basa 50mL                  - Pipet Tetes
-          Labu Ukur 250mL                                    - Gelas Beker 250, 500, dan 1000mL
-          Corong                                          - Kompor listrik
-          Pipet gondok 10mL                      - Statip
-          Gelas Arloji                                   - Propipet

Deskripsi Alat









Gambar 1.1 Rangkaian Alat titrasi
1.3.2      Bahan-bahan
              Bahan-bahan yang digunakan dalm percobaan ini adalah:
-          HCl 0, 1N
-          Akuades
-          Borax (Na2B4O7. 10H2O) 0,2 gram
-          Natrium Karbonat (Na2CO3)
-       NaOH Kristal 1 gram
-       Asam Oksalat (H2C2O4) 0, 6 gram
-       Indikator pp
-       Indikator metil oranye
-       Amonium Klorida (NH4Cl) 0,2 gram
-       Asam Cuka (CH3COOH) 5mL

1.3.3      Prosedur Percobaan
1.3.3.1   Asidimetri
1.3.3.1.1 Standarisasi HCl dengan Borax
- Menimbang Kristal borax (Na2B4O7) 0, 2 gram.
- Melarutkan Kristal borax didalam erlemeyer dengan akuades sebanyak 25mL, lalu mengocok hingga laru.
- Menambahkan indicator metal merah 3 tetes. Menitrasi dengan larutan HCl sehingga warna berubah dari kuning menjadi merah muda.

1.3.3.1.2 Standarisasi HCl dengan Na2CO3 anhidrous
- Menimbang 0, 2 gram Na2CO3, melarutkan dengan 60mL akuades, mengocok dengan baik.
- Menambahkan indicator metal merah 3 tetes. Menitrasi dengan larutan HCl sehingga warna berubah dari kuning menjadi merah muda.
- Mencatat volume titrannya.

1.3.3.2   Alkalimetri
1.3.3.2.1 Membuat Larutan Standar NaOH
- Menimbang 0, 1gram NaOH, melarutkan dengan akuades dalam labu ukur 250mL.
- Mengocok perlahan-lahan samapai zat padat larut, kemudian mengencerkan sampai tanda tera.
- Memindahkan kedalam gelas beker 500mL dan memanaskannya.
-Menutup gelas beker sambil mendinginkan larutan.

1.3.3.2.2 Standarisasi NaOH dengan Asam Oksalat
- Menimbang 0, 6 gram asam oksalat. Memasukkan kedalam erlemeyer 250mL. melarutkan dengan akuades sampai volume 100mL.
- Mengambil larutan 10mL dan menambahkan 3 tetes indicator pp.
- Menitrasi dengan larutan NaOH sampai warna menjadi merah muda dan mencatat volume titrannya.

1.3.3.2.3 Menentukan kadar NH3 dalam NH4Cl
- Menimbang 0,2gram NH4Cl, memasukkan dalam erlemeyer 250mL dan menambahkan 75mL larutan NaOH.
- Mengocok dengan baik, menambahkan 3 tetes indicator metal merah.
- Menitrasi dengan HCl 0, 1N hingga titik ekivalen didapat.
- Mencatat volume titrannya.

1.3.3.2.4 Penetuan Kadar Asam dalam Asam Cuka yang diperdagangkan
- Menimbang gelas beker kosong, memasukkan 5mL asam cuka dan menimbang kembali, menghitung berat asam cuka.
- Memindahkan asam cuka kedalam labu ukur 250mL, mengencerkan dengan akuades sampai tanda tera.
- Mengambil 10mL larutan, dimasukkan kedalam erlemeyer 250mL, menambahkan 3 tetes indicator pp.
- Menitrasi dengan larutan NaOH standar sampai warna merah muda.
- Mencatat volume titrannya.
1.4         Hasil dan Pembahasan
1.4.1      Hasil
1.4.1.1   Data Pengamatan
1.4.1.1.1 Asidimetri
Tabel 1.1Data Hasil Pengamatan Standarisasi HCl dengan Borax
No.
Langkah Kerja
Hasil
1.
2.

3.

4.
Menimbang Kristal Borax.
Melarutkan Kristal borax dengan akuades.
Menambahkan 3 tetes indicator metal merah kedalam larutan.
Menitrasi larutan dengan HCl 0,1N samapi titik ekivalen tercapai.
m Borax = 0, 2 gram
Vakuades = 25mL

Larutan berubah warna dari bening menjadi kuning.
Larutan berubah warna dari kuning menjadi merah  muda.
Vawal = 50mL
Vakhir = 34,2mL
Vtitrasi= 15,7mL

Tabel 1.2 Data Hasil Pengamatan Standarisasi HCl dengan Na2CO3 anhidrous
No.
Langkah Kerja
Hasil
1.

2.

3.

4.
Menimbang Kristal Na2CO3 anhidrous.
Malarutkan Kristal Na2CO3 anhidrous dengan akuades.
Menambahkan indicator metil merah kedalam larutan.
Menitrasi larutan dengan HCl 0, 1N samapai titik ekivalen tercapai.
m = 0, 2 gram

Vakuades = 60mL

Larutan berubah warna dari bening menjadi kuning.
Larutan berubah dari kuning menjadi merah muda.



Vawal = 50mL
Vakhir = 6mL
Vtitrasi = 44mL

1.4.1.1.2 Alkalimetri
Tabel 1.3 Pembuatan Larutan Standar NaOH
No.
Langkah Kerja
Hasil
1.
2.



3.

4.


5.
Menimbang Kristal NaOH.
Memasukkan Kristal NaOH kedalam labu ukur 250mL dan melarutkan dengan akuades sampai tanda tera.
Mengocok selama 1 menit larutan yang ada didalam labu ukur.
Memasukkan larutan yang ada didalam labu ukur kedalam gelas beker 500mL
Memanaskan larutan agar larut sempurna.
m = 1 gram
Vakuades = 250mL



Larutan berwarna bening homogen.

Tabel 1.4 Penentuan Kadar NH3 dalam NH4Cl
No.
Lagkah Kerja
Hasil
1.
2.
3.

4.
Menimbang Kristal NH4Cl.
Menambahkan larutan NaOH.
Menambahkan indicator metal merah sebanyak 3 tetes.
Menitrasi larutan dengan HCl 0, 1N sampai titik ekivalen tercapai.
m = 0, 2 gram
V NaOH larutan = 75mL
Larutan berubah dari bening menjadi kuning.
Larutan berubah warna dari kuning menjadi merah muda.
Vawal = 2 x 50mL = 100mL
Vakhir = 17, 5mL
Vtitrasi = 82, 5mL

Tabel 1.5 Data Standarisasi NaOH dengan H2C2O4
No.
Langkah Kerja
Hasil
1.
2.

3.

4.

5.
Menimbang Kristal Asam Oksalat.
Melarutakn Kristal asam oksalat dengan akuades.
Memasukkan larutan kedalam erlemeyer 250mL.
Menambahkan indicator pp kedalam larutan.
Menitrasi larutan dengan menggunakan NaOH sampai titik ekivalen tercapai.
m = 0, 6gram
Vakuades = 250mL

Vlarutan = 10mL

Larutan berwarna bening.

Larutan berubah warna dari bening menjadi merah muda.
Vawal = 50mL
Vakhir = 40, 1mL
V titrasi = 9, 9mL

Tabel 1.6 Penentuan Kadar Asam Asetat dalam Asam Cuka yang diperdagangkan
No.
Langkah Kerja
Hasil
1.

2.

3.
4.

5.

6.


7.

8.

9.
10.
Menimbang gelas beker 250mL kosong.
Memasukkan asam cuka kedalam gelas beker.
Menimbang gelas beker + cuka.
Menghitung massa asam cuka didalam gelas beker.
Memindahkan asam cuka kedalam labu ukur 250mL.
Mengencerkan asam cuka dengan menggunakan akuades hingga tanda tera.
Mengocok hingga benar-benar homogen.
Memasukkan kedalam erlemeyer 250mL.
Menambahkan 3 tetes indicator pp.
Menitrasi dengan larutan NaOH hingga titik ekivalen tercapai.
m gelas beker = 95, 8  gram

V asam cuka = 5mL

m = 102 gram
m asam cuka = (102 – 95, 80gram = 6, 2 gram


Vpengenceran = 250Ml
Larutan bening homogen



V larutan = 10mL


Larutan berubah warna dari bening menjadi merah muda.
Vawal = 23, 9mL
Vakhir = 25, 8mL
Vtitrasi = 1, 9mL
 1.4.2      Pembahasan
1.4.2.1   Asidimetri
1.4.2.1.1 Standarisasi HCl dengan Borax
              Pada percobaan ini dilakukan standarisasi HCl dengan Borax (Na2B4O7. 10H2O). Borax berperan sebagai standar primer sehingga digunakan untuk pembakuan larutan HCl. Digunakan Borax karena memiliki tingkat kemurnian yang tinggi, kering dan tidak mudah terpengaruh udara/ lingkungan, mudah larut dalam air dan memilki massa ekivalen yang tinggi. Untuk mempermudah pengamatan saat titik ekivalen tercapai digunakan indicator. Kristal Borax dialrutkan terlebih dahulu dengan akuades sebelum dititrasi. Hal ini dikarenakan proses titrasi tidak mungkin dialkukan dalam fase solid/ padatan. Ion-ion tidak akan bereaksi dalam bentuk padatan. Maka, Borax dialrutkan terlebih dahulu dengan akuades agar bisa dititrasi.
              Indikator yang dipilih adalah indicator metal merah. Perubahan warna saat titik ekivalen terjadi Karena adanya kelebihan HCl saat titrasi. Dipilih indicator metal merah sebab titrasi ini dilakukan untuk asam kuat dan basa lemah, dimana kemungkinan pH akhir < 7. Trayek atau range pH untuk metal merah adalah berkisar antara 4, 2-6, 2. Titik ekivalen terjadi jika warna berubah dari kuning menjadi merah muda. Ion H+ dari HCl yang menyebabkan perubahan warna ini. Seperti reaksi:
                                                H+ + ln- ↔ Hln
                                                Kuning      Merah muda
Sedangkan reaksi saat pelarutan Borax dengan akuades adalah sebagai berikut:
                        2Na2B4O7 + 2H2O → 2NaOH + H2B407
              Larutan HCl yang distandarisasi dengan Borax bertujuan untuk menghilangkan gas karbon dioksida (CO2) yang terbentuk. Persamaan reaksi yang terjadi adalah :
              Na2B4O7. 10H2O + HCl → 4H3BO4 + 2NaCl + 5H2O
Dari perhitungan yang didapat, volume HCl yang digunakan untuk menitrasi sebanyak 15, 7mL dan nilai konsentrasinya  sebesar 0, 0669N.
1.4.2.1.2 Standarisasi HCl dengan Na2CO3 anhidrous
              Pada percobaan kali ini dilakukan standarisasi HCl dengan Na2CO3 anhidrous. Digunakan Na2CO3 anhidrous sebagai larutan baku sebab nilai konsentrasinya dapat diketahui langsung melalui perhitungan. Selain itu, Na2CO3 anhidrous juga memenuhi standar larutan baku primer seperti Borax yaitu memiliki tingkat kemurnian yang tinggi, tidak higroskopis, mudah larut dalam air dan memiliki massa ekivalen yang tinggi. Sebelum dititrasi, Kristal Na2CO3 anhidrous dilarutkan terlebih dahulu dengan akuades. Pelarutan ini bertujuan untuk mengionkan senyawa Na2CO3 anhidrous agar dapat dititrasi dan menimbulkan reaksi karena dalam padatan tidak terjadi reaksi antar mulekul ion. Reaksi pelarutan Na2CO3 anhidrous dengan akuades adalah sebagai berikut:
                        Na2CO3 + H2O → 2Na+ + CO32- + H2O
Setelah larutan sia dititrasi dengan HCl, kembali ditetesi dengan indicator. Indicator yang digunakan adalah indicator metil merah. Penambahan indicator ini untuk mempermudah pengamatan saat titik ekivalen sudah tercapai. Dipilh indicator metil merah karena Na2CO3 anhidrous merupakan basa lemah. Jika dititrasi dengan HCl, maka pH akhir pasti dibawah 7. Metil merah yang memiliki trayek pH antara 4,2-6, 2 cocok untuk mengetahui saat titik ekivalen tercapai. Titik ekivalen tercapai saat perubahan warna terlihat, yaitu dari kuning menjadi merah muda. Perubahan warna ini karena adanya kelebihan HCl, khususnya ion-ion H+ yang dapat merubah warna indicator dengan reaksi:
                                                H+ + ln- ↔ Hln
                                                Kuning      Merah muda
Reaksi saat penambahan HCl terhadap Na2CO3 anhidrous adalah sebagai berikut:
                        Na2CO3 + 2HCl → 2NaCl + H2O + CO2
Dari perhitungan didapat bahwa volume HCl yang diperlukan sampai titik ekivalen terjadi adalah sebanyak 44mL dan nilai konsentrasi HCl adalah 0, 0858N. Volume titran yang besar ini kemungkinan karena Na2CO3 anhidrous adalah basa alkaloid, dimana saat titrasi akan menghasilkan gas CO2. Dan pH akhir menurut teori adalah
3, 7 sedangkan trayek pH indicator 4, 2-6,2. Kemungkinan inilah yang menyebabkan volumw titran besar.

1.4.2.2   Alkalimetri
1.4.2.2.1 Membuat larutan standar NaOH
              Untuk percobaan kali ini dilakukan pembuatan larutan standar dengan melarutkan Kristal NaOH dengan akuades. Reaksi pelarutan ini adalah sebagai berikut;
                        NaOH + H2O → Na+ + OH- + H2O
              Saat pelarutan terjadi, suhu labu ukur menjadi lebih hangat. Hal ini menunjukkan bahwa reaksi saat pelarutan NaOH dengan akuades adalah reaksi eksoterm, yaitu adanya pelepasan kalor dari siste ke lingkungan. Dalam hal ini system adalah NaOH yang larut dalam akuades dan lingkungan adalah labu takar dan sekitarnya.
              Pemanasan yang dilakukan antara lain agar NaOH semakin larut sempurna, serta agar larutan NaOH tersebut bebas dari CO2 sebab pada umumnya NaOH mengandung sejumlah zat pengotor yang antara lain yaitu Na2CO3. Dari perhitungan didapatkan data bahwa konsentrasi NaOH sebesar 0, 1N.

1.4.2.2.2 Standarisasi Larutan NaOH dengan Asam Oksalat
              Percobaan standarisasi larutan NaOH dengan asa oksalat ini dilakukan untuk memperoleh nilai konsentrasi NaOH. Kristal asam oksalat dialrutkan terlebih dahulu dengan menggunakan akuades. Hal ini bertujuan agar asam oksalat tersebut dapat dititrasi sebab reaksi antara NaOH dengan asam oksalat tidak akan terjadi dalam fase padatan. Oleh sebab itu Kristal dilarutkan terlebih dahulu dengan akuades. Reaksi saat asam oksalat dilarutkan dengan akuades adalah sebagai berikut;
                        H2C2O4 + NaOH → C2O42- + H3O+
              Sebelum dititrasi dengan NaOH, larutan asam oksalat ini ditetesi dengan indicator. Indicator yang dipilih adala indicator pp. pemilihan indicator ini karena asam oksalat merupakan asam lemah yang akan dititrasi dengan menggunakan basa kuat. Titik akhir titrasi pasti > 7. Hal ini berarti pada saat titik ekivalen terjadi suasana larutan adalah basa. Indicator pp digunakan sebab memiliki range pH 8 – 9, 6. Dengan menggunakan indicator, maka pengamatan terhadap titik ekivalen akan lebih mudah. Titik ekivalen terjadi saat perubahan warna dari bening menjadi merah muda. Perubahan warna ini dikarenakan adanya kelebihan NaOH dalam larutan campuran. Indicator pp merupakan bentuk asam lemah, penambahan ion-ion OH- berlebih dapat menggeser kesetimbangan kearah kanan dan mengubah indicator menjadi berwarna merah muda. Persamaan kesetimbangannya adalah;
                                    H-phph(aq) ↔ H+(aq) + phph-(aq)
                                                 Bening                        Merah muda
Reaksi saat penambahan NaOh terhadap asam oksalat adalah sebagai berikut:
              H2C2O4 + 2H2O + 2 NaOH → Na2C2O4 + 4 H2O
Melalui hasil perhitungan didapatkan data, yaitu konsentrasi dari NaOH sebesar 0, 1347N dari penambahan NaOH sebanyak 9, 9mL.

1.4.2.2.3 Penentuan Kadar NH3 dalam NH4Cl
              Untuk percobaan penetuan kadar NH3 ini digunakan NH4Cl yang dilarutkan dengan NaOH. NH4Cl dilarutkan dengan NaOH karena untuk mengubah ikatan dari NH4Cl mejadi berikatan dengan NaOH sehingga larutan hasil dapat dengan mudah dipisahkan dan menghasilkan NH3 yang diinginkan. Sample NH4Cl yang dilarutkan dengan NaOH reaksinya adalah sebagai berikut:
                        NH4Cl + NaOH → NaCl + NH3 + H2O
Kemudian dititrasi dengan HCl. Prinsip ini sama dengan titrasi asam basa. HCl sebagai titran merupakan asam kuat dan NH4Cl merupakan garam yang terdiri dari basa lemah.
              NaOH yang direaksikan dengan NH4Cl tidak habis bereaksi, melainkan berlebih. Kelebihan dari NaOH inilah yang berekasi dengan HCl saat titrasi berlangsung.
              Penambahan indicator metal merah digunakan untuk mempermudah pengamatan saat titik ekivalen tercapai. Dipilih indicator metal merah karena suasana larutan saat titik ekivalen tercapai adalah asam karena HCl dieraksikan dengan NH4Cl sehingga pH akhir < 7. Trayek pH untuk metal merah berkisar antara 4, 2- 6, 2. Titik ekivalen terjadi saat perubahan warna dari kuning menjadi merah muda. Perubahan ini dikarenakan adanya kelebihan HCl., terutama ion H+ yang mampu menggeser kesetimbangan larutan indicator kesebelah kanan dan menyebabkan perubahan warna dari kuning menjadi merah muda. Reaksi ini seperti dibawah:
                                                H+ + ln- ↔ Hln
                                                Kuning      Merah muda
              Saat titrasi terjadi, NaOH bereaksi dengan HCl dengan persamaa:
                                    NaOH + HCl → NaCl + H2O
Dari perhitungan didapat bahwa kadar NH3 didalam NH4Cl adalah sebesar 70, 125% dengan penambahan HCl sebanyak 82, 5mL. banyaknya volume titran dikarenakan pH pada titik akhir titrasi lebih sedikit basa karena adanya NH3 yang bersifat basa lemah serta trayek pH indicator yang tidak sesuai sehinggan olume HCl banyak.

1.4.2.2.4 Penentuan Kadar Asam Asetat dalam Asam Cuka yang diperdagangkan
              Percobaan penentuan kadar asam asetat dalam asam cuka ini dilakukan dengan menitrasi asam cuka yang sudah diencerkan dengan larutan NaOH 0, 1N. Asam asetat termasuk salah satu contoh protolit lemah, yaitu molekul atau ion yang dapat ikut serta dengan proton yang keseimbangan asam basanya ditentukan oleh tetapan protolisisnya. Pengenceran asam asetat ini dengan air untuk mempermudah titrasi karena sudah terionisasi. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
                        CH3COOH + H2O → CH3COO- + H3O+
              Sebelum dititrasi dengan NaOH, larutan titrat terlebih dahulu ditetesi indicator pp. indicator ini bertujuan agar saat titik ekivalen terjadi,pengamatannya menjadi lebih mudah. Dipilh indikato pp sebab titik akhir ekivalen terjadi saat suasana larutan basa. Ini berarti ph > 7. Suasana larutan pada saat titik ekivalen terjadi dalam keadaan basa sebab titrasi ini adalah titrasi basa kuat terhadap asam lemah. Jadi, saat titik ekivalen terjadi, larutan dalam keadaan basa. Indicator pp memilki range pH antara 8-9, 6. Titik akhir titrasi ditunjukkan oleh perubahan warna dari bening menjadi merah muda. Perubahan warna ini terjadi karena adanya kelebihan NaOH dalam larutan campuran, khususnya ion-ion hidroksida yang mampu menggeser kesetimbangan larutan indicator pp kesebelah kanan sehingga warna larutan berubah dari bening tak berwarna menjadi merah muda dengan persamaan:
                                    H-phph(aq) ↔ H+(aq) + phph-(aq)
                                                 Bening                        Merah muda
Dalam hal ini, perubahan terjadi karena indicator pp adalah juga merupakan asam lemah. Sehingga ion-ion hidroksida dapat bereaksi dan menggerser kesetimbangannya.
              Saat titrasi berlangsung antara NaOH dengan CH3COOH terjadi, reaksinya dalah sebagai berikut:
                        CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O
Dari perhitungan didapat bahwa kadar asam asetat dalam asam cuka yang diperdagangkan adalah sebesar 4, 5968% dengan penambahan titran sebanyak 1,9mL.
gh7 � 0 ' Hb� �� sp;

7.

8.

9.
10.
Menimbang gelas beker 250mL kosong.
Memasukkan asam cuka kedalam gelas beker.
Menimbang gelas beker + cuka.
Menghitung massa asam cuka didalam gelas beker.
Memindahkan asam cuka kedalam labu ukur 250mL.
Mengencerkan asam cuka dengan menggunakan akuades hingga tanda tera.
Mengocok hingga benar-benar homogen.
Memasukkan kedalam erlemeyer 250mL.
Menambahkan 3 tetes indicator pp.
Menitrasi dengan larutan NaOH hingga titik ekivalen tercapai.
m gelas beker = 95, 8  gram

V asam cuka = 5mL

m = 102 gram
m asam cuka = (102 – 95, 80gram = 6, 2 gram


Vpengenceran = 250Ml
Larutan bening homogen



V larutan = 10mL


Larutan berubah warna dari bening menjadi merah muda.
Vawal = 23, 9mL
Vakhir = 25, 8mL
Vtitrasi = 1, 9mL
 1.5         Penutup
1.5.1      Kesimpulan
              Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu:
1.    a. Konsentrasi HCl yang didapat dari standarisasi HCl dengan Borax adalah
          sebesar 0, 0669N.
     b. Konsentrasi HCl yang didapat dari standarisasi HCl dengan Na2CO3 anhidrous
         adalah sebesar 0,0858N.
2.    a. Saat pembuatan larutan standar NaOH diketahui bahwa konsentrasi dari NaOH
         adalah sebesar 0, 1N.
     b. Konsentrasi NaOH yang didapat dari standarisasi NaOH dengan asam oksalat
        sebesar 0, 1347N.
3.    a. Kadar NH3 dalam NH4Cl yang diperoleh sebesar 70, 125.
     b. Kadar asam asetat dalam asam cuka yang diperdagangkan diperoleh sebesar
        4, 598%.

1.5.2      Saran
              Saran yang dapat disampaikan dalam percobaan ini adalah ketelitian dan keahlian praktikan dalam melakukan titrasi serta saat pencucian alat-alat saat proses beralngsung agar benar-benar bersih agar tidak terkontaminasi dengan bekas bahan lain yang akan menghambat proses praktikum.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar